Celah-Celah Langit
Bila hati penat dan pikiran sedang mumet, saya langsung melangkahkan kaki menuju Ledeng, salah satu Sub terminal di
Center Cultur Ledeng yang kemudian berubah nama menjadi Celah-Celah Langit mungkin tak asing bagi penikmat seni. Tempat ini sering dipakai untuk pegelaran musik, pagelaran tari, teater atau pameran seni rupa. Menurut Iman Soleh, pemiliki CCL, tempat ini resmi berdiri sekitar tahun 1998. Awalnya tempat ini sering dipakai latihan teater oleh Tisna Sanjaya (kakak Iman Solah) serta Godi Suwarna sekitar tahun 1982. Seiring berjalannya waktu, tempat ini tidak hanya dipakai untuk berteater, tetapi bermain musik, diskusi seni, menari, pameran dan lain-lain. Nah atas dasar itulah Dosen STSI merangkap sutradara teater ini meresmikan tempat ini menjadi Center Cultur Ledeng.
Dengan Lokasi yang menyatu di sekitar rumah penduduk, serta berdampingan dengan terminal, membuat tempat ini akrab disinggahi berbagai kalangan. Siapapun boleh bertandang ke tempat ini dengan gratis. Tempat ini pun dekat dengan kampus UPI. Jaraknya sekitar 30 meterlah. So kalau saya lagi nonton sudah pasti bertemu dengan teman kampus yang kebetulan interest dengan seni.
Jika ada mahasiswa UPI yang belum pernah bertandang ke CCL coba dehc tengok ke
Begitu masuk, kita akan merasakan suasana yang fresh, karna di sini terdapat pohon- pohon yang cukup rindang. Jarak antar pohon tersebut tidak terlalu rapat , sehingga memberi ruang gerak yang cukup bagi penonton. Saya tidak tahu berapa tepatnya luas tempat ini, yang jelas CCL ini kelilingi oleh kost-kostan milik Amih (Ibunya Iman Solah). Nah di depan kosan inilah tumbuh pohon yang menjulang tinggi. Lalu di mana area pagelaran ? area pagelaran berada di ujung timur. Letaknya lebih rendah dari daerah sekitar dan dikelilingi tembok setinggi 30 cm yang bertingkat-tingkat, fungsinya sebagai tempat duduk bagi penonton. Rumah Iman soleh berada di sebelah kanan area pagelaran yang menyatu dengan kostan.
Yang menarik dari CCL, adalah esensi seni yang tak kenal sekat. Masyarakat bisa mengapresiasi seni lebih dekat. Tanpa sekat inilah yang membuat masyarakat sekitar rela meluangkan waktu demi mereguk hakikat seni yang universal. Kecerian anak-anakpun tampak setiap pagelaran berlangsung. Mereka biasanya duduk paling depan dan tahan hingga pagelaran usai (pagelaran biasanya berakhir sekitar pukul 23.00 WIB).
Sejak aku mengetahui tempat ini, tiap ada pagelaran tidak pernah ku lewatkan sekalipun, karna selain bisa mengusir kepenatan, setidaknya saya juga bisa melihat langsung performance para seniman besar sekaliber Rendra atau Godi Suwarna.